Pemerintah Indonesia menegaskan bahwa pasokan bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri tetap stabil meskipun situasi perang di Timur Tengah menimbulkan potensi gangguan impor minyak mentah dari wilayah tersebut. Hal ini disampaikan dalam Energy Iftar Forum 2026 yang diselenggarakan di Jakarta pada 11 Maret 2026. Pemerintah telah menyiapkan strategi alternatif sebagai langkah antisipasi untuk menjaga stabilitas energi nasional menjelang bulan Ramadhan dan Idul Fitri.
Menurut anggota Komite BPH Migas, Fathul Nugroho, saat ini Indonesia hanya mengimpor sekitar 19 persen minyak mentah dari Arab Saudi, yang merupakan bagian dari Timur Tengah. Sebagian besar impor minyak mentah Indonesia berasal dari negara-negara yang tidak terlibat konflik, seperti Nigeria dan Angola. Fathul menjelaskan bahwa meskipun impor minyak dari Arab Saudi mencapai 19 persen, pemerintah telah menyusun langkah-langkah preventif dengan mengimpor minyak dari negara yang tidak terdampak konflik.
Ia menegaskan bahwa Indonesia tidak terlalu terpengaruh oleh penutupan Selat Hormuz oleh Iran karena mayoritas impor minyak mentah berasal dari negara-negara yang tidak terlibat konflik. Impor minyak dari Nigeria mencapai 34,07 juta barel (25 persen), dari Angola 28,50 juta barel (21 persen), dan dari negara lain sebanyak 47,40 juta barel (35 persen), sementara impor dari Arab Saudi hanya mencapai 28,50 juta barel (19 persen). Dengan strategi impor yang tepat, pemerintah berharap dapat menjaga kestabilan pasokan BBM di tengah gejolak di Timur Tengah.





