Di desa kecil Tambakrejo, Pemalang, Jawa Tengah, Gunawan dan teman-temannya tengah sibuk menurunkan gabah dari tengah sawah ke tepi jalan. Meski bukan petani, Gunawan memiliki peran penting sebagai tukang trabas sawah, membantu mengangkut gabah menggunakan sepeda motor modifikasi. Pekerjaan ini, meskipun hanya musiman, memberikan berkah bagi mereka yang terbiasa hidup di tengah ladang dan lumpur.
Dalam sekali angkut, biasanya diperlukan lima hingga sepuluh orang tukang trabas. Mereka bekerja dari pagi hingga malam hari, tergantung pada kebutuhan. Untuk pekerjaan ini, upahnya bervariasi tergantung pada luas lahan dan kondisi medan. Selama musim panen padi, permintaan untuk jasa angkut gabah meningkat dan bahkan mencapai luar daerah.
Gunawan mengungkapkan bahwa motor adalah nyawa usaha ini. Jika motor sudah lelah, ia tidak akan memaksakannya. Meski begitu, hasil kerjanya cukup memuaskan, dengan penghasilan harian mencapai Rp200 ribu hingga Rp300 ribu. Hal ini mencukupi kebutuhan sehari-hari dan bahkan sedikit bisa ditabung untuk masa yang tidak pasti.
Meskipun modernisasi dan alat berat pertanian semakin berkembang, jasa tradisional tukang trabas seperti Gunawan tetap bertahan. Mereka menjadi penghubung antara petani dan pembeli, hadir ketika mesin besar tidak mampu menjangkau area-area yang sulit dijangkau. Dengan kisah Gunawan dan rekan-rekannya, kita bisa melihat betapa pentingnya peran mereka dalam ekosistem pertanian.





