Dunia yang semakin terhubung membawa tantangan baru bagi negara-negara, terutama ketika konflik bersenjata terjadi di satu titik, namun efeknya menyebar jauh hingga ke berbagai penjuru dunia. Farrell dan Newman (2019) telah menekankan bagaimana arus modal, informasi, dan barang lintas-batas kini menjadi sumber risiko dan peluang sekaligus bagi negara-negara. Dalam beberapa tahun terakhir, Perang Ukraina dan Perang Iran menjadi contoh nyata bagaimana gangguan regional dapat merusak stabilitas global secara luas.
Perang Ukraina menimbulkan masalah besar pada rantai pasok pangan global. Hampir semua ekspor pertanian Ukraina, yaitu lebih dari 90 persen atau sekitar enam juta ton per bulan, sebelumnya dikirim lewat Laut Hitam. Namun, ketika jalur ini terganggu akibat perang, pengalihan ke rute darat dan pelabuhan lain hanya mampu menutupi sebagian kecil kapasitas awal (EPRS, 2022). Ketergantungan dunia pada Rusia dan Belarus dalam hal bahan baku pupuk juga menambah kerentanan global; penghentian distribusi menyebabkan imbas jangka panjang, bukan hanya dari sisi panen saat ini, tapi juga musim tanam berikutnya di berbagai negara (OECD, 2022).
Sementara itu, Perang Iran memberikan pelajaran berbeda namun tetap relevan: penyebab kekacauan pasokan energi bukan hanya karena serangan fisik ataupun penghancuran infrastruktur, tetapi juga karena meningkatnya risiko dan biaya operasional, seperti premi asuransi pelayaran yang melonjak akibat ancaman rudal hingga drone. Dalam rentang Maret – Mei 2026, aliran minyak melalui Selat Hormuz anjlok drastis dari sekitar 20 juta ke hanya 2,7 juta barel tiap hari. Menurut International Energy Agency (2026), ini adalah gangguan pasokan minyak terburuk sepanjang sejarah pasar global.
Kedua konflik berikut menunjukkan bahwa walau jaringan ekonomi global terus memanjang dan bercabang, tetap ada titik-titik kritis yang jika terganggu, menimbulkan efek domino lintas batas. Farrell dan Newman menyebut fenomena ini sebagai “chokepoint effect.” Baik pelabuhan, selat, maupun jalur distribusi finansial dan teknologi, semuanya bisa menjadi simpul vital yang dampaknya tak tergantikan saat terblokir atau terganggu. Fishman (2025) menjelaskan bahwa kini simpul-simpul itu dapat ditekan dengan berbagai instrumen—baik kekerasan fisik di lapangan, sanksi ekonomi, hingga penghentian akses ke infrastruktur digital dan keuangan. Akibatnya, ekonomi dan masyarakat tidak bisa berjalan normal meski negara tersebut tidak menjadi medan tempur langsung.
Dampak dari perang di Ukraina dan Iran bahkan sampai ke Indonesia. Gangguan pada pengiriman gandum dan pupuk dari kawasan Laut Hitam menghasilkan naiknya tekanan pada ketahanan pangan, khususnya negara-negara berkembang yang sangat bergantung pada impor bahan baku tersebut. Di sisi lain, kenaikan harga minyak akibat penurunan volume ekspor via Selat Hormuz turut menaikkan harga energi bagi negara seperti Indonesia.
Hal ini menggarisbawahi pentingnya ketahanan dan perencanaan fungsional, bukan sekadar memperkuat sumber daya militer. Perang modern telah memaksa negara untuk berpikir ulang: ketika gangguan atau tekanan tidak lagi hanya berupa serangan militer langsung, melainkan juga penutupan akses pada jalur logistik, energi, atau data, maka strategi pertahanan harus memasukkan risiko terputusnya rantai pasok global yang menopang perekonomian dan kebutuhan esensial negara. Ketercukupan pangan dan bahan bakar, kelancaran distribusi antar pulau, bahkan keberlanjutan koneksi data dan pembayaran harus diperhitungkan dalam skenario darurat.
Indonesia sebagai negara kepulauan sangat rentan terhadap efek pergeseran global. Konektivitas antara pulau, kelancaran barang dan jasa, serta stabilitas jaringan infrastruktur seperti pelabuhan, kilang, gudang pangan, kabel laut, hingga pusat data menjadi sangat krusial. Oleh sebab itu, strategi yang efektif bukan hanya memperbanyak stok atau produksi dalam negeri, namun juga menyediakan jalur alternatif, kapasitas cadangan, serta kemampuan pemulihan fungsi vital secara cepat jika terjadi gangguan.
Berpikir lebih fungsional akan membantu Indonesia siap menghadapi skenario terburuk, baik sebagai akibat dari perang di dalam negeri maupun konflik internasional yang efeknya sampai ke tanah air. Pertanyaannya tak sekadar soal dari arah mana serangan datang, tapi juga fungsi-fungsi apa saja yang perlu dijaga agar tetap berjalan, simpul mana yang tak tergantikan, serta estimasi berapa lama negara bisa bertahan saat salah satu simpul kritis terhenti. Dengan begitu, Indonesia dapat meningkatkan daya tahan nasionalnya, bukan hanya melewati badai global, tetapi juga tetap mampu bergerak menuju masa depan yang lebih tangguh, adil, dan mandiri.
Sumber: Perang Terbatas, Dampak Global: Broto Wardoyo Soroti Ketahanan Pertahanan Indonesia
Sumber: Menakar Dampak Tak Terbatas Dari Perang Terbatas





