Anak Krakatau dan Kengerian Letusan Gunung Krakatau pada 1883
Gunung Anak Krakatau menjadi sorotan setelah mengalami erupsi sejak Sabtu (5/9/2026), mengganggu aktivitas lalu lintas dan penerbangan serta menimbulkan abu vulkanik di sekitar Jawa Barat dan Lampung.
Erupsi Anak Krakatau dan Perlunya Kewaspadaan
Guncangan letusan dari Anak Krakatau menjadi perhatian publik setelah beberapa tahun terakhir menunjukkan aktivitas vulkanik yang tinggi. Data dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi mencatat Anak Krakatau sebagai gunung yang paling aktif dalam lima tahun terakhir.
Gunung Anak Krakatau, sebagai anak dari Gunung Krakatau yang meletus dahsyat pada tahun 1883, kembali menunjukkan keganasannya melalui suara gemuruh dan lontaran lava pijar pada 4 hingga 5 September 2026.
Sejarah Letusan 1883 dan Film Dokumenter “Karakatoa The Last Days”
Letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883, yang melepaskan suara paling keras yang pernah terdengar di bumi, menciptakan tsunamI setinggi 40 meter, menyebabkan kerugian besar di wilayah sekitarnya dengan korban jiwa mencapai ribuan orang.
Film dokumenter “Krakatoa The Last Days” yang rilis tahun 1968 menggambarkan detil letusan Krakatau yang menggelapkan langit selama berhari-hari, menurunkan suhu bumi secara signifikan, dan membawa dampak global dengan abu vulkanik yang menutupi atmosfer.
Fakta-fakta Menarik tentang Krakatau
- Ketinggian Gunung Krakatau mencapai 813 meter di atas permukaan laut, terletak di perairan Selat Sunda antara Jawa dan Sumatra.
- Puncak letusan destruktif Krakatau terjadi pada 26-27 Agustus 1883 dengan daya ledakan setara dengan ribuan kali bom atom Hiroshima.
- Letusan itu menciptakan tsunami tinggi dan menimbulkan lapisan abu vulkanik global yang memengaruhi suhu bumi.
- Akibat letusan itu, lebih dari 70% pulau Krakatau hancur dan melahirkan Gunung Anak Krakatau pada tahun 1972.
Sumber: Times Indonesia


