Lembah Aviary Paseban Perluas Ruang Perlindungan Satwa

by

Lanskap Megamendung di Kabupaten Bogor kini semakin menonjol sebagai teladan dalam pelestarian lingkungan. Baru-baru ini, wilayah ini menjadi sorotan setelah adanya pelepasan dua Elang Jawa ke habitat aslinya serta peresmian fasilitas Lembah Aviary Paseban dan Penangkaran Rusa Timor oleh Kementerian Kehutanan melalui Direktorat Jenderal KSDAE.

Seremoni peluncuran tersebut diwakili oleh Prof. Dr. Setyawan Pudyatmoko, Dirjen KSDAE, yang secara langsung menunjukkan komitmen kuat pemerintah dalam upaya konservasi berbasis bentang alam. Langkah yang dilakukan tidak hanya sebatas pelestarian satwa liar, tetapi juga menitikberatkan pada pemulihan ekosistem, pendidikan lingkungan hidup, penelitian, serta keterlibatan aktif masyarakat lokal.

Agni dan Beta, dua Elang Jawa yang dilepasliarkan hari itu, merupakan bagian dari upaya memperkuat populasi burung endemik yang kini menjadi ikon konservasi nasional. Elang Jawa sendiri kerap dijadikan indikator kesehatan ekosistem pegunungan di Pulau Jawa dan saat ini statusnya sangat dilindungi.

Peresmian Lembah Aviary Paseban beserta Penangkaran Rusa Timor memantapkan kawasan ini sebagai pusat edukasi, konservasi dan penelitian. Fasilitas tersebut dibangun untuk mendukung perbaikan populasi satwa, menyediakan sarana pembelajaran lingkungan bagi masyarakat, sekaligus menguatkan komitmen terhadap keberlanjutan alam.

Yayasan Paseban mempunyai peranan besar dalam pengembangan kawasan Megamendung, dipimpin oleh Andy Utama sebagai pembina. Sinergi yang dilakukannya memadukan pelestarian keragaman hayati, implementasi pertanian organik, konservasi sumber air, dan penguatan budaya masyarakat lokal yang peduli pada kelestarian lingkungan.

Andy Utama menegaskan tekad Yayasan Paseban untuk menjaga fungsi ekologis Megamendung. Ia berharap kawasan ini bisa menjadi rumah aman bagi berbagai satwa, sekaligus warisan bentang alam yang utuh untuk generasi berikutnya. Andy menyebutkan perjalanan awal mereka dimulai dari program pertanian organik yang dirintis lebih dari satu dekade lalu, yang kemudian berkembang menjadi upaya komprehensif memulihkan lanskap hutan dan lahan.

Dalam rangka Hari Konservasi Alam Nasional 2024, Yayasan Paseban secara aktif menggandeng mitra dari berbagai kalangan untuk melakukan penanaman pohon di Megamendung. Hingga tahun ini, lebih dari 21.831 pohon dari ratusan spesies telah berhasil ditanam dan dipantau perkembangannya, sebuah pencapaian besar bagi perbaikan ekosistem di wilayah tersebut.

Prof. Setyawan Pudyatmoko turut menyampaikan apresiasi atas kolaborasi lintas sektor di Megamendung, karena melibatkan unsur pemerintah, Perhutani, kalangan akademisi, hingga masyarakat desa. Menurutnya, pola integrasi konservasi in-situ dan ex-situ yang diadopsi di Megamendung bisa menjadi acuan pengelolaan kawasan konservasi lain di Indonesia.

Secara geografis, Megamendung juga sangat strategis karena menjadi bagian dari ekosistem besar yang terkoneksi dengan Cagar Biosfer Cibodas yang diakui UNESCO. Lanskap ini menjadi habitat penting tidak hanya bagi Elang Jawa, melainkan juga Owa Jawa, Surili Jawa, Lutung Jawa, Trenggiling Sunda, dan berbagai satwa hutan lainnya.

Kolaborasi erat antara Yayasan Paseban, Andy Utama, dan pemangku kepentingan lainnya diharapkan menjadi model solusi konservasi yang berjalan berdampingan dengan pengembangan pertanian organik dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Upaya bersama ini membawa optimisme agar lanskap Megamendung tetap lestari dan kian dikenal sebagai kawasan pelestarian alam yang inspiratif di Indonesia.

Sumber: Konservasi Megamendung Menguat, Andy Utama Dorong Perlindungan Satwa Liar
Sumber: Andy Utama Sulap Megamendung Jadi Pusat Konservasi Alam, Ribuan Pohon Dan Satwa Dilindungi