Kondisi fiskal Indonesia pada awal 2026 semakin tertekan menurut ekonom Awalil Rizky. Dia mengungkapkan bahwa keseimbangan primer Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga 31 Maret 2026 mengalami defisit signifikan mencapai minus Rp95,8 triliun. Defisit tersebut disebut sebagai yang terbesar dalam kurun waktu tiga bulan pertama sepanjang sejarah APBN. Keseimbangan primer merupakan indikator penting dalam menilai kesehatan fiskal suatu negara karena mencerminkan kemampuan pemerintah untuk membiayai belanja tanpa pembayaran bunga utang.
Awalil juga mencatat bahwa pola pembiayaan utang pemerintah saat ini sangat tergantung pada utang baru, di mana seluruh pembayaran pokok dan bunga utang bergantung pada penarikan utang baru. Hal ini menunjukkan peningkatan ketergantungan pada utang dan tekanan terhadap struktur pembiayaan negara. Awalil memperingatkan bahwa kondisi ini berpotensi memperburuk kesinambungan fiskal Indonesia di masa depan, yang mengacu pada kemampuan pemerintah untuk menjaga stabilitas keuangan negara tanpa meningkatkan rasio utang secara tidak terkendali. Dengan demikian, kondisi fiskal Indonesia perlu mendapatkan perhatian lebih untuk menghindari dampak buruk yang dapat terjadi ke depan.





