Sandiaga Uno, seorang politisi dan pengusaha, mengungkapkan bahwa kondisi ekonomi saat ini tidak stabil, yang dipengaruhi oleh kondisi global. Faktor seperti suku bunga yang tinggi di Amerika Serikat dan melemahnya nilai tukar rupiah menjadi indikasi dari ketidakstabilan tersebut. Untuk mengatasi hal ini, Sandiaga berpendapat bahwa Indonesia perlu lebih agresif dalam membuka pasar-pasar besar dunia, terutama dalam hal ekspor produk. Pariwisata menjadi salah satu sektor yang bisa dioptimalkan dengan cepat karena dampaknya langsung terasa bagi ekonomi masyarakat.
Di tengah tantangan ekonomi yang ada, Sandiaga menyatakan bahwa selalu ada peluang, asalkan kita mampu berinovasi, beradaptasi, dan bekerja sama. Selain itu, defisit APBN yang mencapai Rp135 triliun pada Februari 2026 juga menjadi perhatian. Kenaikan yang drastis ini dibandingkan dengan tahun sebelumnya menunjukkan dampak dari ketidakpastian global, seperti perang antara AS dan Iran-Israel yang belum menunjukkan tanda-tanda berakhir.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa pihaknya tidak berniat merespons komunikasi dari AS dalam mengakhiri konflik tersebut, karena fokusnya adalah melindungi rakyat Iran. Hal ini menunjukkan bahwa situasi geopolitik global juga turut berdampak pada kondisi ekonomi Indonesia. Oleh karena itu, kerjasama antarnegara dan upaya untuk memperkuat ekonomi domestik menjadi kunci utama dalam menghadapi ketidakstabilan ekonomi global.





