Perang Berlarut: Dampak Ekonomi RI Lebih Parah daripada Pandemi

by

Didik Mukrianto, mantan anggota DPR RI, memperingatkan mengenai potensi resesi ekonomi di Indonesia jika konflik geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran terus berlanjut. Kenaikan harga minyak dunia yang signifikan, khususnya harga minyak Brent Crude Oil yang mendekati US$93 per barel pada awal Maret 2026, jauh di atas asumsi APBN Indonesia sekitar US$70 per barel, menjadi salah satu faktor risiko utama. Lonjakan harga minyak dipicu oleh eskalasi konflik yang mengancam jalur strategis Selat Hormuz, yang merupakan jalur utama sekitar 20-30 persen pasokan minyak dunia.

Jika terjadi gangguan pasokan minyak di Selat Hormuz, Didik Khianat mengatakan bahwa harga minyak dapat melonjak hingga US$130-150 per barel dalam skenario eskalasi penuh. Hal ini akan berdampak pada kenaikan beban subsidi energi yang drastis, meningkatkan defisit anggaran hingga ratusan triliun rupiah, dan berisiko melebihi batas 3 persen dari PDB.

Setiap kenaikan US$1 per barel di atas asumsi APBN diperkirakan akan menambah defisit anggaran sekitar Rp6,8 triliun hingga Rp10 triliun. Kenaikan harga minyak juga berpotensi memengaruhi inflasi, biaya transportasi, distribusi barang, dan daya beli masyarakat yang menyumbang sekitar 55 persen PDB Indonesia. Kondisi ini dapat berisiko terhadap stabilitas ekonomi nasional.

Source link