Nama Timothy Ronald kembali menyita perhatian publik karena kontroversi terkait praktik edukasi kripto yang dipertanyakan. Timothy diduga terlibat dalam penjualan program edukasi berbayar yang dianggap memiliki substansi minim dan janji kebebasan finansial yang diragukan. Ia mengiklankan Akademi Crypto dengan harga langganan mencapai Rp17 juta per tahun, menawarkan “ilmu rahasia” untuk sukses dalam investasi kripto. Namun, beberapa mantan peserta mengkritik konten yang diajarkan sebagai dangkal dan tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan.
Kritik terhadap Timothy semakin meluas setelah kontroversinya dibahas dalam sebuah podcast YouTube. Gaya hidup mewah dan klaim kekayaan yang ditunjukkan dianggap sebagai strategi pemasaran untuk menarik minat peserta. Beberapa pengamat melihat pola perilaku ini mirip dengan kasus influencer kripto lainnya yang terlibat dalam penipuan. Mereka menyoroti rendahnya literasi aset digital di masyarakat Indonesia dan perlunya pengawasan yang lebih ketat dari OJK dan Satgas Waspada Investasi terhadap sektor edukasi kripto.
Kasus ini menjadi sorotan karena mengungkapkan tantangan dalam pengawasan terhadap edukasi digital dan kripto di Indonesia. Penting bagi otoritas terkait untuk memastikan agar masyarakat tidak terperdaya oleh program edukasi yang menjanjikan sukses instan tanpa dasar yang kuat.





